Alif Lam Mim

Media Kajian Kebudayaan, Keislaman dan Lintas Agama

Karomah Syekh Hasan Abdillah, Glenmore, Banyuwangi

Setelah beliau wafat, banyak kalangan orang terdekat dan para santrinya yang merasa begitu kehilangan sosok guru sekaligus kekasih Allah swt yang merupakan pembimbing ummat Islam terutama wilayah Glenmore. Memang memang sudah hakikatnya seorang manusia semasa di dunia akan mengalami fase tutup usia, tapi tidak dengan para kekasih Allah yang senantiasa dijaga oleh Allah swt meskipun selepas mengalami fase wafat.
Sebelum meninggal, K.H Hasan Abdillah juga pernah memberikan ijazah untuk selalu istiqomah dalam hal kebaikan. Disamping itu, beliau juga memberikan contoh berperilaku yang baik kepada semua orang. Tidak memandang siapapun itu.
Dalam sebuah cerita yang disampaikan oleh Kyai Washil Haq, putra almaghfirullah Kyai Hasan Abdillah, tentang hikmah memasang foto para ulama’. Kyai Washil menyampaikan bahwa, selain hati terasa sejuk ketika memandang wajah para ulama tersebut, tak ayal juga muncul kisah unik dari foto-foto itu sendiri.
Pernah suatu hari ketika ada tamu di ndalem Kyai Washil. Tamu tersebut menceritakan kejadian apa yang telah ia alami pada Kyai Washil. Sebut saja tamu itu si Fulan.
Si Fulan menceritakan bahwa saat itu ia baru saja pulang dari bepergian. Setibanya di depan rumah, ia terkejut saat melihat pintu rumahnya terbuka sedikit, dan terdapat sebuah goresan aneh di pintunya. Sempat terlintas dalam benaknya,
“Siapa yang masuk ke rumah ini, jangan-jangan maling” kata si Fulan dalam benaknya.
Tanpa berfikir lama, ia pun segera masuk kedalam rumahnya dibarengi dengan rasa penasaran dan gemetar. Sesampainya di dalam, ia terkejut melihat ada orang asing yang tidak dikenal yang sedang tengkurap di ruang tamu dan badannya tertutup kain taplak meja. Si Fulan pun bertanya pada orang asing itu.
“Loh, sopo sampean? (Loh, siapa anda?), laopo sampean kok koyo ngene? (kenapa anda kok seperti ini?), sek tah, ojo-ojo sampean maling yo? (sebentar-sebentar, jangan-jangan anda maling ya?)” Tanya si Fulan,
Lalu orang asing itu pun menyauti tanya si Fulan.
“Ampun pak, ampuun” jawab orang asing itu dengan memohon ampun,
Lalu si Fulan lanjut bertanya.
“Sampean iki sopo kok iso koyo ngene?, maling yo? (anda ini siapa kok bisa seperti ini?)”,
Orang asing itu tetap saja tidak berhenti-berhenti meminta maaf dan menceritakan apa yang telah terjadi.
“Saya minta maaf pak, saya tadi mau mencuri, tapi tiba-tiba bertemu dengan orang yang ada di foto itu (ia sambil menunjuk foto almaghfirullah Kyai Hasan Abdillah), dia memukul-mukul saya dengan taplak meja” ungkap si pencuri itu.
Mendengar ucapan pencuri itu, sontak si Fulan ini terkejut dan kemudian lanjut bertanya.
“Loh sek tah, bener tah sampean ketemu wong iku mau? (loh sebentar, benarkah anda bertemu dengan orang itu?)”
“Benar pak, ampun pak, ampun, saya tidak akan mengulangi lagi” pengakuan si pencuri itu.
Si Fulan ini juga semakin terkejut ketika teringat bahwa sosok foto yang ditunjuk oleh pencuri itu sebenarnya adalah almaghfirullah K.H Hasan Abdillah yang waktu itu sudah wafat. Lalu terlintas dalam pikiran si Fulan.
“Subhanallah, ini mungkin karomah beliau” terlintas dalam pikiran si Fulan.
Singkat cerita, pencuri itu pun akhirnya dilepas karena ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Dari kisah di atas, semoga menjadi pelajaran bagi kita, bhwa Allah membuka hati seorang hamba-Nya yang ia kehendaki dengan berbagai cara yang tidak kita ketahui. Al-Fakir (penulis) hanya mampu menyimpulkan kisah di atas dari sudut pandang sederhana, apa yang tidak mungkin ketika Allah berkehendak. Dari cerita ini, teringat dawuh al-Habib Luthfi bin Yahya, bahwa para wali Allah tetap hidup di alam kuburnya (barzakh) seperti kehidupan mereka di dunia.
Para wali yang ahli tahajjud, akan tetap tahajjud du alam kuburnya. Wali yang ahli tadarus Qur’an, juga tetap tadarus Qur’an. Yang ahli silaturahim, akan tetap silaturahim dan seterusnya.
Hal semacam ini sebagai kenikmatan yang mereka alami di alam kubur. Jika ada para peziarah berdiri mengucapkan salam dan doa-doa, maka si wali yan diziarahi juga ikut berdiri, menjawab salam dan mengamini doa-doanya. Jika peziarah membaca Yasin, Tahlil, dsb, maka si wali juga ikut membacanya. Jika para peziarah tawassul, maka beliau juga ikut mendoakan.
Sebagian juga ada yang ahli menolong, sering keluar dari alam kuburnya kea lam dunia ini untuk menolong para pecintanya. Beliau Habib Luthfi juga menuturkan saat pelantikannya sebagai watimpres, di antara wali yang ahli darok (menolong) adalah Mbah Hasan Minhajul ‘Abidin, Gabutan, Solo. Banyak cerita nyata dari para pecintanya yang membuktikannya. Diantara mereka ada yang ditolong dari perampokan, kecelakaan, dll.
Sebagian mereka ada yang ingin soan ke ndalem beliau sebagai rasa terima kasih dengan membawa oleh-oleh layaknya orang yang mau sowan kepada Kyai. Namun, mereka kaget ketika dikabarkan oleh penduduk setempat, bahwa Mbah Hasan Minhaj itu sudah wafat.
وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَن يُقْتَلُ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتٌۢ ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ وَلَٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ

“Jangan kalian katakana bagi orang yang gugur di jalan Allah, (mereka) itu orang-orang mati!, namun, mereka adalah orang-orang yang hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya.
Sama seperti kisah si Fulan yang menceritakan kejadian yang telah ia alami kepada Gus Washil, salah satu putra almaghfirullah K.H Hasan Abdillah. Jasad Kyai Hasan Abdillah memang sudah tiada, tapi beliau tetap hidup tanpa kita sadari. Wallahu a’lam.


Ali Mursyid Azisi Avatar

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai