
Pendorong munculnya Negara Israel di kawasan Palestina adalah sebuah kekuatan yang besar yang disebut dengan ideology Zionisme. Zionisme adalah suatu hal yang dipercayai oleh kaum Yhaudi dimana mereka berkelana berpuluh-puluh tahun, berpindah-pindah, lalu mereka kembali dan mencari suatu tempat yang sudah dijanjikan untuk bangsa yahudi, kembalinya orang-orang yahudi setelah berabad-abad yang bertujuan untuk menyelamatkan mereka dari sebuah kekuasaan orang-orang non-Yahudi,mencegah adanya penindasan dan ancaman masyarakat luar yang bukan bangsa Yhaudi snediri, dari sinilah bertujuan untuk mewujudkan Negara yang bangsanya dimiliki oleh bangsa Yahudi sepenuhnya. Setelah melakukan diaspora selama lebih dari 2000 tahun lamanya agar mereka bisa dengan survive di bumi.
Pencarian yang mereka yakini banyak menimbulkan polemic didalamnya, senuah wilayah Negara-bangsa Yahudi yang biasanya mereka sebut dengan julukan “promised land” yang artinya adalah tanah air yang telah dijanjikan untuk bangsa Yahudi tersebut. Theodore Herlts adalah seorang jurnalis dan seorang mantan wartawan beliau mengungkapkan bahwasanya Zionisme adalah program pokok bangsa Yhaudi sejak tahun 1897. Pencarian bangsa Yahdui memiliki kesulotan tersendiri dalam mencari ”tanah yang dijanjikan” tersebut, mulai dari Amerika Serikat, Afrika, dan Negara dikawasan-kawasan tertentu, hingga mereka menemukanya dengan gerakan Zionisme tersebut di Palestina yang mereka sebut dengan “promised land”.
Adanya kebijakan yang dicetuskan oleh Tsar Rusia yang memiliki pergerakan anti-Yahudi diamana kebijakan tersebut bebarengan dengan adanya ideology tentang Zionisme tersebut, yang mengakibatkan banyak terjadinya gelombang migrasi dalam orang-orang yahudi yang jarak panjangnya dari 1882-1918 ke Palestina, Eropa Timur dan juga ke Amerika Serikat. Seiring waktu berjalan ada pergeseran dengan ideology Zionisme sendiri, Zionisme bertujuan awal dengan mengembalikan dan mencari tanah yang telah dijanjikan untuk mereka dan memegang prinsip dasar ideology kemanusiaan dan agama daripada hanya kesatuan wilayah tanah air. Tetapi yang membuat ideology Zionisme tergeser adalah karena adanya migrasi yang terjadi besar-besaran terhadap Palestina tersebut.
Akibat adanya migrasi orang-orang Yahudi yang berpindah ke palestina, orang-orang yahudi mengubah Zionisme menjadin suatu hal politik untuk mewujudkan “tanah air yang dijanjikan” yang berada di Palestina saat ini. Dengan perubahan masa ideology tersebut maka terciptanya mayoritas bangsa Yahudi yang sudah menjadikanya program gerakan internasional Zionisme sejak akhir abad ke-19. Dan semakin menurutnya Dinasti Usmani sejak pertengahan abad ke-19 yang makin banyak memberikan peluang orang-orang yahudi mengambil posisi di Palestina, karena banyak penduduk Palestina yang miskin dan kekurangan, akhirnya mereka menjual tanah-tanah mereka kapada orang orang Yahudi.
Munculnya gerakan anti-semit di seluruh dunia yang bisa di bilang juga dengan anti dengan orang-orang Yahudi semakin membuat adanya gerakan Zionisme di seluruh dunia. Dr, Theodore Herzl (1896), seorang Yahudi Hongaria yang berada di Paris. Pendapatnya satu-satunya hal yang dapat membuat anti-semitisme hilang dan dapat menanggulangi hal tersebut adalah dengan menciptak suatu daerah tanah air dan bangsa untuk Yahudi, pamfletnya yang berjdul “Der JudenStaat” yang mulai di propagandakan karena keingininanya tersebut dalam mendeklarasikan hal itu. Awalnya Herzl belu7m memiliki awalan dimana letak bangsa Yahudi ini akan menaruh kejayaanya, Herzl mengusulkan dan mengira-ngira bahwasanya Argentina atau Palestina, bahkan dalam kongres kaum Zionisme yang terjadi pertama kali di Basel, Swiss tahun 1897, mereka rtelah menetapkan Palestina adalah yang dijanjikan dan yang mereka telah pilih .
Banyak alas an yang memilih Palestina dikarenakan pokok dasarnya ideology Yahudi adalah mengembalikan “Haikal Sulaiman” dimana hal itu merupakan lambing tentang puncak kejayaan orang-orang Yahudi di Palestina sejak tahun 957M – 935M. dari situlah sejak tahun 1930 Yahudi dan bangsa Eropa bermigrasi ke Palestina dengan sangat tajam, terutama pada era Perang Dunia ke II.
Pada masa tahun 1909, runtuhnya kekhalifahan yang sedang diduduki oleh Sultan Turki Muda yang bernama Sultan Abdul Hamid, yang menjadikan penggalang berdirinya Israel juga dan menjadikan Yahudi semakin kuat. Namun Sultan Abdul Hamid mengeluarkan pernyataan keras kepada kaum Yahudi:
“seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan nmemberikan tawaran itu, 30 tahun lebih aku mengabdi kepada kaum muslimin dan para sultan, aku tidak akan mencoreng sejarah Islam, yang telah dirintis oleh nenek moyang ku dan sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian itu!”. Pernyataan keras oleh Sultan Absul Hamid kepada bangsa Yahudi.
Bangsa Yahudi makin membara untuk menghancurkan Sultan Abdul Hamid, yang dimana beliau telah menjadi penghalang besar untuk agama Yahudi mendirikan kenegaraan dan bangsanya di Plaestina.
Adapun ide lainya dari bangsa Yahudi yang mana mereka memakai ide Restorasi Yahudi yang beriringan dengan kuat dengan sebuah kepentingan imperialisme, ketertarikan bangsa Eropa kepada Plaestina pada kurun waktu abad ke-19 menjadikan hal tersebut 2 tingkatan yang berbeda, pertama adalah politik di antara pemerintahan Eropa karena letak geografis Palestina yang strategis dan berada di lingkungan arab. Kedua adalah aspirasi sosial yang perkembanganya terkait dengan ide Perang Salib damai di kalangan orang-orang Kristen Ortodok dan Yahudi untuk menguasai Yerussalem.
Permasalah bangsa ini sangat rumit untuk dijabarkan, Karena bangsa Yahudi menginginkan mengalih tanah Palestina untuk Yahudi, dan bangsa Yahudi menginginkan menjadikan dirinya sebagai kaum minoritas di tengah penduduk Palestina-rab. Pada tahun 1917 Inggris telah mengeluarkan Deklaraai Blafour dan menjanjikan akan menghadiahkan sebuah tanah air untuk bangsa Yahudfi di Palestina.
Kaum Inggris berpendapat bahwa jikalau bangsa Yahudi ini menjalin relasi dengan perpolitikanya, kaum Inggris akan dengan mudah menguasai negeri ini. Mereka juga memiliki pendapat bahwasanya mereka akan menggalang dukungan dari warga Yahudi di Rusia dan juga di Amerika dalam berbagai bentuk perang, karena adanya sumber politik ini yang membuat Inggris mengabaikan komitmen dengan bangsa Arab, dan dalam sesuai hal-hal peperangan dalam Liga Bangsa-Bangsa mengesahkan suatu hal mandat kepada Inggris untuk tidak merealisasikan tujuan pembangunan sebuah tanah aie nasional bangsa Yahudi.
Tinggalkan komentar