
Agama sebagai identitas/tata cara menyembah atau jalan keselamatan menuju Tuhan, memiliki peranan penting dalam kehidupan. Agama di sini menawarkan berbagai jalan keluar bagi segala macam kesulitan, masalah, dan cobaan setiap manusia. Maka dari itu, adanya Tuhan yang dalam setiap agama memiliki nama panggilan yang berbeda menjadi pemilik hak tertinggi atas segalanya. Atas ketidakberdayaan manusia di dunia, pertolongan Tuhan sangatlah dibutuhkan.
Maka dari itu, adanya agama sendiri merupakan media untuk mencari jalan keluar, menempuh perjalanan pulang, dan mendapatkan segala hal yang di inginkan. Dalam mencapai segala keinginan baik itu secara kelompok maupun individu, maka terdapat upacara-upacara ataupun ritual-ritual yang hadinya merupakan sebagai media untuk mencapai segala tujuannya.
M.A Tihami dalam karya ilmiahnya yang berjudul “Agama dan Magi Bagi Kyai Dan Jawara (Studi Kasus di Desa Pasanggrahan, Serang, Banten)”, menjelaskan bahwa upacara dan ritual tersebut nampaknya merupakan sebuah keyakinan yang sudah diwariskan secara turun menurun dan dipercaya jikalau dilakukan akan memperoleh kebaikan berdasarkan keyakinan itu sendiri. Kebaikan yang dimaksud di sini yaitu yang disebut ibadag, puncak keyakinan terhadap sang penguasa alam dan hal lainnya.
Dari sini, ritual yang ada dalam setiap agama memiliki sifat kolektif, maka dari itu adanya kesadaran dalam beribadah yang dilakukan secara berjamaah maupun secara individual bagi setiap pemeluk agama. Begitu pula dengan kebersamaan dalam hal ibadah yang dilakukan sifatnya kebersmaan seperti halnya upacara maupun ritual itu akan melahirkan perasaan (keyakinan) agama. Upacara akan tetap ada karena mendorong kebersamaan mpral bagi ummat manusia.
Hal ini sejalan dengan pendapat Emile Durkheim, ia menyatakan tentang agama sebagai suatu sistem kepercayaan, upacara-upacara, dan segala sesuatu yang sacral, yang berorientasi pada komunitas moral. Adapun hal yang berkaitan dengan magi berawal dari adanya kepercayaan/keyakinan tentang kekuatan-kekuatan atau bahkan kemurahan-kemurahan Gusti Pengeran (Tuhan). Tuhan disini dipercaya memiki kuasa dan sumber segala kekuatan.
Kekuatan-kekuatan tersebut sebagian diberikan atau berada dalam ciptaannya selain manusia, sebab manusia pada hakikatnya tidak memiliki kekuatan apa-apa (laa haula wa laa quwwah illa billah). Kekuatan yang diperoleh manusia pada umumnya ad ayang langsung dari Tuhan maupun secara tidak langsung seperti kekuatan-kekuatan makhluk Tuhan tersebut, yang tentunya dengan jalan/formula-formula tertentu, seperti halnya jampi-jampi, mantera dan juga ayat-ayat kitab Allah.
Adanya kepercayaan dan keyakinan-keyakinan yang berasal dari eksternal manusia (impersonal) memperlihatkan adanya unsur magi, sedangkan adanya personifikasi Tuhan sebagai kekuatan di luar mansia itu memperlihatkan adanya agama, sebab menimbulkan kesadaran perbuatan dan upacara. Maka dari itu, menurut Sills, ia menyatakan bahwasanya keyakinan akan adanya kekuatan impersonal (supranatural) merupakan magi, dan kekuatan yang dipersonifikasikan sebagai Tuhan itulah yang dinamakan agama.
Menurut Honig Jr, kata magi berasal dari bahasa Parsi, “maga” yang berarti “imam” atau pendeta untuk agama Zoroaster yang bertugas mengembangkan dan memelihara kelestarian agama. Ia pun menegaskan bahwa magi sama dengan sihir. Namun demikian, dalam kepercayaan primitive, magi lebih luas artinya dari pada sihir. Karena yang dikatakan magi adalah suatu cara berfikir dan suatu cara hidup yang mempunyai arti lebih tinggi dari pada apa yang diperbuat oleh seorang ahli sihir sebagai perseorangan.
Magi (sihir) adalah suatu fenomena yang sangat dikenal dan umumnya dipahami, namun tampaknya sangat sulit dirumuskan dengan tepat. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa magi adalah kepercayaan dan praktik menurut mana manusia yakin bahwa secara langsung mereka dapat mempengaruhi kekuatan alam dan antar mereka sendiri, entah untuk tujuan baik atau buruk dengan usaha mereka sendiri dengan memanipulasi daya-daya yang lebih tinggi. Magi primitif terbagi dua jenis, tiruan dan sentuhan.
Magi tiruan didasarkan pada kesamaan dalam bentuk atau dalam proses; keserupaan menghasilkan keserupaan. Misalnya kalau seseorang memasukkan jarum pada suatu boneka, orang yang diserupakaan dengan boneka itu akan terkena pengaruhnnya. Di sini ahli magi dapat membuat hujan turun dengan menirukan bunyi guntur. Sedangkan magi sentuhan didasarkan pada hukum sentuhan fisik hakikat.
Syariat merupakan upaya manusia secara maksimal untuk mendapatkan suatu yang dibutuhkannya. Sedangkan hakikat artinya ketentuan Tuhan dalam memenuhi usaha (syariat) manusia.atau penularan dan pengaruh magi mempunyai dasarnya pada kontak fisik. Para ahli magi dapat mencelakakan orang lain, kalau dia dapat memperoleh sehelai rambut, sepotong kuku, secarik kain yang pernah bersentuhan dengan orang tersebut.
Kesusasteraan etnologi membedakan secara umum antara magi putih dan magi hitam menurut tujuannya masing-masing yakni apakah hal itu dilakukan untuk menolong atau mencederai orang. Pada umumnya magi hitam dianggap tidak etis dalam hal sikap maupun campur tangannya dalam hubungan antar pribadi. Orang primitif melihat magi hitam sebagai suatu kejahatan yang sungguh-sungguh melawan masyarakat (sihir). Orang jahat adalah orang yang mengarahkan pengetahuan dan bakatnya dalam hal magi hitam untuk melawan anggota-anggota dalam kelompoknya sendiri.
Magi menurut Malinowski adalah manusia untuk memecahkan maslah dalam memenuhi kebutuhan praktisnya apabila pemenuhan kebutuhan praktis itu tidak bisa diselesaikan/diperoleh melalui kebutuhan manusia. Kaitannya dengan magi putih dalam hal laku ibadah ketika dipersonifikaksikan manusia sebagai peminta/pemohon doa, dan Tuhan adalah sang pemberi (pihak yang mengabulkan). Maka dari itu ajaran ilmu magi putih seperti ini dikenal dengan syariat.
Secara umum tujuan magi adalah untuk meningkatkan iman pengikutnya dalam harapan kemenangan akan ketakutan. Menurut Malinowski, magi mengungkapkan nilai bagi kepercayaan manusia atas keraguan, atas kebimbangan, dan atas pesimisme (Malinowski, 1854: 90). Adapun tujuan khusus magi yaitu instrumental, di mana magi digunakan sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Seperti magi untuk menolak bahaya, untuk mengobati penyakit, untuk keselamatan dalam perjalanan, untuk menjaga harta benda. Biasanya hal ini dapat berbentuk benda-benda kramat atau dapat juga dalam bentuk mantra-mantra. Sementara tujuan ekspresif, di mana tindakan yang menyatakan makna dari simbol dan kosmologi tertentu secara turun temurun (Malinowski, 1854: 88-9).
Tinggalkan komentar